Posted by: bikaniaue | November 13, 2009

Kaenbaun 2009

Aku kemarin ke Bnoko Kaenbaun dan Kuun bersama dengan Pak Djarot (bidang arsitektur) dan Pak Kianto (bidang tekno-biologi) . Keduanya dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang meneliti tentang Ketahanan Pangan di Kaenbaun. Kami akan segera menyelesaikan laporan dan membuat seminar di Universitas Atma Jaya tentang temuan penelitian di Kaenbaun ini.

Salah satu temuan yang menarik, kami secara tidak sengaja menemukan sepotong batu di kebun John Taus sebagai warisan dari Usi Taseko Bana yang menunjukkan tanda-tanda sebagai sebuah fosil tumbuh-tumbuhan. Ini sebuah kejutan yang sangat mengesankan.

Salam,

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

O MA’LAFU’

(Nama samaran penjaga kuda)

Oma’lafu’
O ho ho
Nao he  mutonan tuan
Nakam bikaes a tena namen
Namen sa’an
Nakten na’
Alo kasiane lompe’-lompe’
Elele hao

O ma’lafu
O ho ho (ungkapan kegembiraan)
Pergi sampaikan kepada tuan
Katakan bahwa kuda tuan sedang sakit perut
Sakit apa
Berak darah
Aduh sungguh kasihan
Elele hao (tralala )

———————-

Menurut saya, syair lagu ini bisa jadi diangkat dari suatu kebiasaan orang asing yang biasanya berkuda (bikase: bijae kase/ sapi milik orang asing) ke kampung. Sering terjadi kuda itu sakit perut, sehingga penjaganya (Ma’lafu’) dihimbau untuk segera melaporkan kejadian itu kepada pemilik kuda.

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

USAPI TOE MANTA’EN

(Dahan Kusambi Lambang Perjanjian)

Ro,ro,ro, inarou
Tupolo mupnikan kau
Fenalo mumnau kau inaro
Usapi toe man taen talat maet
Nekaf mese’tala tmaet
Ansaof mese tala tmael
On le’ nane elare

Ro, ro, ro, inarou (ungkapan kegembiraan bagi sang kekasih)
Jika tidur lupakan daku
Kala bangun ingat padaku
Daun kusambi daun perjanjian
Satu hati sampai mati
Satu hati sampai mati
Harus begitu tralala

—————–

Menurut saya, lagu ini mengisahkan suatu kenangan yang indah dalam suatu ikatan kasih persaudaraan. Di saat malam (tidur) boleh saling melupakan namun di saat mentari tersenyum di ufuk Timur (bangun tidur) rasa persaudaraan harus menjadi idaman hidup bersama sebagai saudara. Bukan hanya itu melainkan persaudaraan itu harus dipupuk secara terus menerus, ya terus menerus dan sampai mati.

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

HOE ENA (Wahai Mama)

Hoe ena
Tulak na’tau pane
Kaisa tulak
Mok ho oel inam bait ok oke tulak

Aduh mama
Tulak / nama orang sekikir usus besar babi
Jangan Tulak
Harus kamu bagi dengan adik-adik

——————

Jika saya melihat syairnya, lagu ini bermakna sangat mendidik. Kalau di dalam hidup bersama, ada kakak yang kikir maka sebagai adik ia melaporkan perbuatan kakak kepada mamanya, sehingga mamanya menasihati supaya dalam membagi sesuatu harus memperhatikan unsur keadilan (bait ok oke mok ho oel in).

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

MAT LIK (Kunang-kunang)

Mat lik
Anao fai
Fua ban loet
Nak sot nemen

Kunang-kunang
Penjelajah di malam hari
Buah yang bernilai
Semakin dekat

———–

Pengalaman saya sejak kecil : Lagu yang pendek ini biasanya dinyanyikan saat malam ketika mau tidur. Jika para penyanyi tidak menutup badannya dengan selimut, maka akan ada kunang-kunang yang datang dan membuat rambutnya menjadi putih. Sehingga menurut saya, ini sebenarnya bertujuan agar anak-anak yang hendak tidur harus menutup badannya dengan bete (sarung lelaki Dawan) atau tais (sarung wanita Dawan), sehingga tidak digigit nyamuk. Maklum karena dulu tidak ada kain kelambu. Lagu ini biasanya dinyanyikan berulang-ulang kali sampai anak-anak yang menyanyikannya tertidur nyenyak, sehingga tidak tau lagu itu sudah diulang sampai bagian yang mana.

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

KOL KITA (Burung Nuri)

E… Kol kita kol kita lulum tasa’
E.. heot ne-no
Heot neno nes naitne’ sebae
Ela, ela,ela
Ela, ela, ela
ela, elare

E…burung nuri, burung nuri berparuh merah
E…burung elang kecil
Elang kecil sudah sambar/bawa lari menghilang
Tralala
Tralala
Tralala

——–

Burung Nuri ini syair lagu Dawan. Menurut saya, dari arti syair lagu ini dapat digambarkan bahwa Kol Kita itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang bersolek (burung nuri berparuh merah). Karena ia kelihatannya elok maka ia sering dinikahi oleh lelaki dengan cara kawin lari ( heot neno nes nait nekje bae) sedangkan Ela, elare adalah suatu ungkapan kegembiraan khas di daerah Dawan-Timor. Lagu ini sering dinyanyikan pada saat mengiringi tarian Bilut para gadis cantik orang Dawan yang dikumandangkan oleh para pemain alat musik berdawai seperti Bijol (gitar tidak bergrep dan bersenar empat) untuk mengungkapkan gambaran heot neno, maka laki-laki biasanya menari sampai melambai-lambaikan selendangnya di atas kepala para gadis (npeo bi fenun).

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Categories