Posted by: bikaniaue | June 28, 2010

Sejarah Gereja Katolik di Kaenbaun

GEREJA SEBAGAI PUSAT MISI. Menurut para warga Kaenbaun, gereja ini di masa lalu pernah menjadi pusat kehidupan bagi desa Kaenbaun. Bahkan gereja itu merupakan semacam “pusat misi di pedalamanan” bagi para pastor yang datang dari enklave Portugis (Oekusi/Ambenu). Ada dugaan, misi katolik di desa Kaenbaun dikendalikan dari Oekusi, sebab para pastor datang dari wilayah “luar negeri” itu.

Menurut penuturan tetua desa, area di sekitar gereja dimasa lalu pernah berdiri sekolah dasar dan asrama bagi para siswa yang datang dari desa- desa sekitar Kaenbaun. Model sekolah jaman dulu adalah masuk asrama, sehingga pelajaran dapat berjalan dengan lancar, tidak ada murid terlambat karena datang dari desa yang jauh. Oleh karenanya, sungai di sekeliling gereja merupakan fasilitas yang penting bagi kehidupan di sekitar gereja, sekolah dan asrama.

Posted by: bikaniaue | June 19, 2010

Wawancara Eksklusif

Hasil wawancara lewat email antara Pimpinan Pusat Musik Liturgi Jogya (Rm. Karl Edmund Prier, Sj) dengan John Taus dalam rangka HUT ke -30 Madah Bakti :

PML Jogya : Sejauh Anda ketahui, sejak kapan paroki / keuskupan Anda dulu menggunakan buku Madah Bakti?

John Taus : Sebelumnya, saya mau sampaikan bahwa saya adalah Pengurus Liturgi Paroki St. Theresia Kefamenanu, Penghubung Liturgi Dekenat Kefamenanu dan salah satu anggota Seksi Musik Liturgi Keuskupan Atambua namun saya jawab secara pribadi bukan atas nama pengurus di Paroki, Dekenat, dan Keuskupan.

Saya kurang tahu persis karena ketika saya masih kecil dan tinggal di desa Kaenbaun- Paroki Tunbaba-Timor pada Tahun 1970-an walaupun saya sudah biasanya menyanyi di Gereja St. Yohanes Pemandi Kaenbaun yang merupakan pusat paroki Tunbaba waktu itu sebagai solo maupun sebagai anggota koor bahkan sebagai pemain gitar kampung (bijol), strem bas ( string bas Dawan yang bertali 2, dan bahannya dari kapuk hutan serta senarnya memakai tali plastik berukuran kecil) saat misa, saya tidak pernah melihat buku Madah Bakti namun setelah di Kelas II ( Dua) SMPK Putra St. Xaverius Kefamenanu sekitar Tahun 1981 yang pada waktu itu sebagai salah satu petugas liturgi Asrama Putra Kefamenanu, almarhum Bruder Ande Talan, SVD biasanya menyodorkan buku-buku lagu misa kepada kami untuk menyiapkan lagu-lagu misa pagi di Gereja Paroki Santa Theresia Kefamenanu. Di antaranya ada buku Madah Bakti kecil yang dilengkapi dengan doa-doa namun notasi lagunya hanya mempergunakan satu suara ( Cantus firmus ).

Selanjutnya, ketika saya menjadi siswa Seminari Lalian- Atambua-Timor pada tahun 1982 s/d 1986 ternyata di sana juga sudah ada buku Madah Bakti, malah seorang seminaris wajib memiliki buku-buku rohani untuk kegiatan liturgi termasuk buku Madah Bakti. Hal ini saya ingat persis karena pada waktu itu saya pernah ditunjuk sebagai ketua musik. Di Seminari Lalian kami sering membawakan lagu-lagu dari buku Madah Bakti atas bimbingan dari almarhum bapak Alo Neno sebagai guru musik.

Setelah tamat Seminari Lalian yakni pada tahun 1989 saya kembali ke Kefamenanu dan mengajar mata Pelajaran Kesenian, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Moral Pancasila di SMPK Putri Kefamenanu sehingga bertemu lagi dengan almarhum bruder Ande Talan, SVD dan diminta untuk mengurus lagi musik liturgi di Paroki St. Theresia Kefamenanu sambil disuruh untuk berlatih organ dengan mempergunakan lagu-lagu termasuk yang ada di dalam buku Madah Bakti namun tidak mempergunakan notasi balok seperti sekarang.

Melihat sedikit ada kemajuan maka almarhum bruder Ande Talan, SVD mohon kepada Mgr. Anton Pain Ratu, SVD ( uskup Atambua saat itu yang sangat memperhatikan musik liturgi ) maka pada Tahun 1992-1993 saya diperbolehkan mengikuti Kursus Organ Gereja Jarak Jauh (KOGJJ) yang diselenggarakan oleh PML Jogyakarta sehingga di sana ( pada bulan Juli 1993) saya bertemu lagi dengan buku Madah Bakti dan pernah memimpin salah satu lagu yang indah dari Madah Bakti di Gereja Kota Baru Jogyakarta dengan bimbingan Romo Karl-Edmund Prier, SJ dan bapak Paul Widyawan saat mengikuti ujian kenaikan tingkat namun ternyata buku Madah Bakti sudah dilengkapi dengan buku iringan organ dan ada lagi buku Madah Bakti Suplemen.

PML Jogya : Apa alasan paroki / keuskupan Anda tetap menggunakan buku Madah Bakti dalam perayaan ibadat?

John Taus : Buku Madah Bakti masih tetap dipergunakan di Paroki St. Theresia Kefamenanu karena ada begitu banyak lagu yang sudah mengumat dan jika dikumandangkan akan menyentuh hati umat sehingga Madah Bakti tidak bisa dilupakan begitu saja apalagi dalam buku Madah Bakti Suplemen dan atau Madah Bakti 2000 sudah memuat begitu banyak lagu inkulturasi Timor yang bunyi musiknya sudah dikenal sejak kecil.

Selain itu, buku Madah Bakti sudah cukup lengkap karena sudah menyediakan begitu banyak lagu untuk semua masa liturgi sehingga seksi liturgi paroki tidak usah buang waktu, tenaga, dan biaya untuk mengadakan buku lagu lain.

Selain itu juga, secara khusus, sebagai organis saya masih tetap menginginkan agar di Paroki St. Theresia Kefamenanu menggunakan buku Madah Bakti karena ada banyak lagu yang sudah kami kuasai iringannya dalam buku iringan Madah Bakti. Alasan lain bahwa belum ada buku lagu misa yang sudah dilengkapi dengan iringan organ yang teratur dan bermutu seperti buku Madah Bakti; Ilmu yang selama ini diperoleh dari PML dengan biaya yang tidak sedikit dari kas Paroki St. Theresia Kefamenanu dan Keuskupan Atambua akan hangus begitu saja tanpa suatu penerapan karena justru penerapannya ada yang berjalan bersama-sama dengan buku Madah Bakti.

PML Jogya : Apa yang menjadi peluang buku Madah Bakti untuk paroki / keuskupan Anda di masa mendatang?

John Taus : Secara jujur saya katakan bahwa untuk mencari pengganti buku Madah Bakti masih sangat sulit dan jika hal ini ingin diwujudkan maka paroki/keuskupan memerlukan dana yang cukup banyak dan butuh waktu yang agak lama untuk menyusun buku lagu yang baru setelah itu perlu waktu yang lama untuk memperkenalkan lagu-lagu baru itu karena lagu-lagu dalam buku-buku lagu terbitan Keuskupan Atambua belum menjawabi semua kebutuhan musik liturgi terutama lagu-lagu tematis seperti kebutuhan untuk masa Adventus, Natal, Prapaskah dan masa Paskah, dan sebagainya. Khusus untuk paroki St. Theresia Kefamenanu, Madah Bakti mempunyai peluang untuk masih terus dipergunakan sebagai buku pegangan bagi para calon organis yang mau belajar organ liturgi secara baik.

Semua hal di atas berdasarkan pada suatu pengalaman di Jogya saat mengikuti penataran kenaikan tingkat dalam rangkaian kegiatan Kursus Organ Gereja Jarak Jauh dan kesulitan mengiringi koor yang selama ini dalam membawakan lagu-lagu dari buku Madah Bakti&Madah Bakti Suplemen maka saya merasa bahwa untuk mengiringi lagu-lagu dari buku Madah Bakti sebaiknya memakai buku iringannya karena di dalamnya sudah ada model iringan yang tersusun rapih dan bermutu namun praktis sehingga orgnis tidak akan lagi membuat  improvisasi sesuka hatinya saat mengiringi lagu misa. Jujur saja, banyak organis gereja sering tidak memakai iringan saat mengiringi koor karena memang tidak ada buku iringannya. Sehingga kalau kita memakai buku Madah Bakti maka banyak manfaatnya antara lain, lagunya diangkat dari musik daerah, ada arransemen SATB dan koor sejenis bahkan ada iringannya. Bukan hanya itu, buku koor Madah Bakti juga sudah disertakan tanda-tanda dinamika dan akor-akor yang cocok dengan buku koornya sehingga pelatih tidak usah buang waktu lagi untuk mencari-cari isi syair lagu untuk kebutuhan interpretasi. Selanjutnya, sekarang di Kefamenanu juga ada buku Madah Bakti 2000 yang lebih khas lagi dengan lagu-lagu inkulturasi dari berbagai daerah.

Apresiasi saya terhadap Madah Bakti :

Saya mau katakan bahwa buku Madah Bakti adalah BUKU LAGU LITURGI INDONESIA MINI BERSATU karena secara nasional, Gereja Katolik Indonesia boleh berbangga bahwa Madah Bakti yang merupakan hasil kerja keras PML Jogyakarta dapat mempersatukan semua umat beriman Katolik di seluruh Indonesia yang ingin bermadah bagi Tuhan dari buku lagu yang satu dan sama. Selain itu, secara internasional lewat Madah Bakti bangsa lain akan dapat mengenal cirikhas musik Indonesia dan menghargainya sehingga suatu saat bangsa lain tidak akan dapat mengklaimnya sebagai milik mereka serta dapat percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan musik dan lebih dari itu, Indonesia adalah bangsa yang ber-KETUHANAN YANG MAHA ESA.

PROFICIAT BUAT MADAH BAKTI. NAMAMU MASIH ADA DAN AKAN ADA DI HATI KAMI SELAMANYA.

Demikianlah beberapa hal yang dapat kami jawab. Akhirnya, saya menyampaikan terima kasih dan Selamat HUT ke-30 Madah Bakti.

Hormat dan salam

John Taus

Email : bikani_aue@yahoo.co.id

Posted by: bikaniaue | November 13, 2009

Kaenbaun 2009

Aku kemarin ke Bnoko Kaenbaun dan Kuun bersama dengan Pak Djarot (bidang arsitektur) dan Pak Kianto (bidang tekno-biologi) . Keduanya dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang meneliti tentang Ketahanan Pangan di Kaenbaun. Kami akan segera menyelesaikan laporan dan membuat seminar di Universitas Atma Jaya tentang temuan penelitian di Kaenbaun ini.

Salah satu temuan yang menarik, kami secara tidak sengaja menemukan sepotong batu di kebun John Taus sebagai warisan dari Usi Taseko Bana yang menunjukkan tanda-tanda sebagai sebuah fosil tumbuh-tumbuhan. Ini sebuah kejutan yang sangat mengesankan.

Salam,

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

O MA’LAFU’

(Nama samaran penjaga kuda)

Oma’lafu’
O ho ho
Nao he  mutonan tuan
Nakam bikaes a tena namen
Namen sa’an
Nakten na’
Alo kasiane lompe’-lompe’
Elele hao

O ma’lafu
O ho ho (ungkapan kegembiraan)
Pergi sampaikan kepada tuan
Katakan bahwa kuda tuan sedang sakit perut
Sakit apa
Berak darah
Aduh sungguh kasihan
Elele hao (tralala )

———————-

Menurut saya, syair lagu ini bisa jadi diangkat dari suatu kebiasaan orang asing yang biasanya berkuda (bikase: bijae kase/ sapi milik orang asing) ke kampung. Sering terjadi kuda itu sakit perut, sehingga penjaganya (Ma’lafu’) dihimbau untuk segera melaporkan kejadian itu kepada pemilik kuda.

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

USAPI TOE MANTA’EN

(Dahan Kusambi Lambang Perjanjian)

Ro,ro,ro, inarou
Tupolo mupnikan kau
Fenalo mumnau kau inaro
Usapi toe man taen talat maet
Nekaf mese’tala tmaet
Ansaof mese tala tmael
On le’ nane elare

Ro, ro, ro, inarou (ungkapan kegembiraan bagi sang kekasih)
Jika tidur lupakan daku
Kala bangun ingat padaku
Daun kusambi daun perjanjian
Satu hati sampai mati
Satu hati sampai mati
Harus begitu tralala

—————–

Menurut saya, lagu ini mengisahkan suatu kenangan yang indah dalam suatu ikatan kasih persaudaraan. Di saat malam (tidur) boleh saling melupakan namun di saat mentari tersenyum di ufuk Timur (bangun tidur) rasa persaudaraan harus menjadi idaman hidup bersama sebagai saudara. Bukan hanya itu melainkan persaudaraan itu harus dipupuk secara terus menerus, ya terus menerus dan sampai mati.

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

HOE ENA (Wahai Mama)

Hoe ena
Tulak na’tau pane
Kaisa tulak
Mok ho oel inam bait ok oke tulak

Aduh mama
Tulak / nama orang sekikir usus besar babi
Jangan Tulak
Harus kamu bagi dengan adik-adik

——————

Jika saya melihat syairnya, lagu ini bermakna sangat mendidik. Kalau di dalam hidup bersama, ada kakak yang kikir maka sebagai adik ia melaporkan perbuatan kakak kepada mamanya, sehingga mamanya menasihati supaya dalam membagi sesuatu harus memperhatikan unsur keadilan (bait ok oke mok ho oel in).

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

MAT LIK (Kunang-kunang)

Mat lik
Anao fai
Fua ban loet
Nak sot nemen

Kunang-kunang
Penjelajah di malam hari
Buah yang bernilai
Semakin dekat

———–

Pengalaman saya sejak kecil : Lagu yang pendek ini biasanya dinyanyikan saat malam ketika mau tidur. Jika para penyanyi tidak menutup badannya dengan selimut, maka akan ada kunang-kunang yang datang dan membuat rambutnya menjadi putih. Sehingga menurut saya, ini sebenarnya bertujuan agar anak-anak yang hendak tidur harus menutup badannya dengan bete (sarung lelaki Dawan) atau tais (sarung wanita Dawan), sehingga tidak digigit nyamuk. Maklum karena dulu tidak ada kain kelambu. Lagu ini biasanya dinyanyikan berulang-ulang kali sampai anak-anak yang menyanyikannya tertidur nyenyak, sehingga tidak tau lagu itu sudah diulang sampai bagian yang mana.

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Posted by: bikaniaue | October 19, 2009

KOL KITA (Burung Nuri)

E… Kol kita kol kita lulum tasa’
E.. heot ne-no
Heot neno nes naitne’ sebae
Ela, ela,ela
Ela, ela, ela
ela, elare

E…burung nuri, burung nuri berparuh merah
E…burung elang kecil
Elang kecil sudah sambar/bawa lari menghilang
Tralala
Tralala
Tralala

——–

Burung Nuri ini syair lagu Dawan. Menurut saya, dari arti syair lagu ini dapat digambarkan bahwa Kol Kita itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang bersolek (burung nuri berparuh merah). Karena ia kelihatannya elok maka ia sering dinikahi oleh lelaki dengan cara kawin lari ( heot neno nes nait nekje bae) sedangkan Ela, elare adalah suatu ungkapan kegembiraan khas di daerah Dawan-Timor. Lagu ini sering dinyanyikan pada saat mengiringi tarian Bilut para gadis cantik orang Dawan yang dikumandangkan oleh para pemain alat musik berdawai seperti Bijol (gitar tidak bergrep dan bersenar empat) untuk mengungkapkan gambaran heot neno, maka laki-laki biasanya menari sampai melambai-lambaikan selendangnya di atas kepala para gadis (npeo bi fenun).

Syair lagu ini dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi sinopsis oleh John Taus S. Ag., S.Sos. pada tanggal 23 Juni 2009.

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.